Telur

0
3142

Walau hanya sebutir telur, cerita berawal ketika aku tinggal di sebuah kota kecil Cirebon sekitar tahun 70-80 an. Kehidupan keluarga kami apa adanya saja, kalau tidak mau disebut seadanya. Karena seadanya itu, menu sarapan kami (aku dan adik-adikku, 5 bersaudara) sebelum pergi kesekolah adalah makan nasi dengan telur dadar, lalu diberi kecap manis diatasnya.

Kenangan indah yang aku ingat sampai sekarang adalah, telur yang di dadar Ibu tidak berjumlah 5 butir…. ya itulah karena hidup kami pas-pasan, telur yang dimasak Ibu hanya 1 butir, lalu dibagi 5, untuk aku dan adik-adikku. Namun, walaupun hanya mendapatkan 1/5 potongan kecil, dan hanya dicucuri kecap manis diatasnya, kami menikmati sarapan pagi yang disediakan Ibu, karena kami hiasi dengan gelak tawa dan gurau canda, sambil bercerita tentang peristiwa di sekolah masing-masing…. Maklumlah jarak antara Aku dan adik-adik tidak terpaut terlalu jauh, antara 1 – 2 tahun saja.

Kenangan tentang telur sampai kepada peristiwa yang tak terlupakan. Ketika aku duduk di kelas 2 SMP, aku ikut kegiatan perkemahan Pramuka di daerah Kebon Pelok, Kabupaten Cirebon. Setelah bermalam, pada keesokan harinya seperti biasa setiap anggota Pramuka harus memasak, menyiapkan sarapan nya sendiri-sendiri. Dan setiap kita pun berbaris, maju satu persatu untuk mengambil bahan sarapan….. lalu kita mendapatkan telur, satu orang satu butir !

Semua anggota Pramuka mulai sibuk, ada yang merebus telurnya, ada yang membuat telur dadar atau telur ceplok, mereka menyiapkan sarapan nya masing-masing, sementara aku duduk didepan tenda, sambil memegang erat telur yang tadi dibagi.

Entah kenapa, aku merasa sayang memasak sebutir telur hanya untuk dimakan sendiri. aku ingat adik-adik dirumah, aku terbayang mereka hanya makan sepotong kecil telur dadar, yang hanya sebutir, dan harus dibagi 5 pula. Lama aku pandangi telur itu, aku genggam, aku pandangi lagi, berulang-ulang aku lakukan seperti itu.

Sampai akhirnya aku putuskan untuk menyimpan saja telur itu di tas ransel, aku akan bawa pulang, aku akan kasihkan ke Ibu…. untuk menambah jatah sarapan telur kami besok pagi. Boleh lah sekali-kali kami sarapan telur dadar yang sedikit lebih besar.

Ah ternyata secuplik peristiwa saat itu, membuat kenangan tentang telur teringat terus hingga sekarang…… betapa indahnya !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here