Bohongnya Ibu

0
424

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki sulung dari sebuah keluarga yang tidak kaya. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah berbohong.

Ketika aku mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu berusaha membantu ayah mencari nafkah. Ibu berusaha menjadi Guru Senam untuk menambahi kekurangan biaya hidup bersama 5 orang anaknya. Namun pernah satu kali, murid-muridnya terlambat membayar iuran senam. Uang yang ada hanya mampu mendapatkan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami, dan hanya memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega, dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela berjualan minuman Cuka Apel, berjualan Kalender ketika menjelang pergantian tahun, mengkoordinir kegiatan Wisata demi mendapatkan sedikit uang lebih. Segala usaha Ia lakukan, maklumlah kebutuhan sekolah anak-anaknya semakin bertambah. Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat dan tidur, Ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara Ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu tercinta harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa Ia tak butuh cinta, dan hidupnya akan Ia abdikan untuk anak-anak. Dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, dan adik-adikku semuanya sudah tamat dari sekolah dan mulai bekerja, ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, Ia rela pergi ke satu rumah dan rumah lainnya hanya untuk mengajar baca tulis Al Qur’an, untuk memenuhi keperluan hidupnya. Aku dan adik-adikku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.” Entah sudah berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang ke-69, ibu sudah tidak sekuat dulu lagi, Ia kini sering sakit, badannya sering demam, dan tubuhnya mulai mengurus. Aku yang berada jauh di luar kota terkadang jarang menyambangi tempat tinggal Ibu. Pernah ketika aku mampir ke rumahnya, aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya.

Ibu yang kelihatan semakin tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang ditahannya. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita, merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi. Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.

(teruntuk Ibu tercinta : R. Lilis Nurilma, yang hari ini, 28 Agustus 2009 baru pulang dari ibadah Umroh, diawal ramadhan 1430 Hijriah….)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here