Tidur Bersama

0
433

Suatu malam kami berempat (saya, istri dan kedua anak saya Arvel dan Arvy) tidur dalam satu kamar disebuah Hotel, dikarenakan kamar tersisa tinggal satu, dan kami sudah tidak ada pilihan lagi karena hari telah malam.

Sekali-kali tidur bersama anak-anak itu nikmat. Apalagi bila saat tidur, tiba-tiba tangan anak kita memeluk, damai dan bahagia mengalir ke dalam sendi-sendi tubuh kita. Pelukan itu biasanya saya balas dengan pelukan yang lebih erat.

Saat bangun pagi pikiran saya melayang ke beberapa puluh tahun yang lalu. Dulu, setiap malam saya tidur bersama bapak dan ibu saya, bukan pilihan tetapi karena memang kamar tidurnya hanya satu. Rumah kami hanya di sebuah gang kecil.

Tiba-tiba pikiran saya melayang ke wajah ibu yang kini telah semakin tua. Begitu berat perjalan hidup yang Ibu tempuh untuk membesarkan anak-anaknya. Hampir setiap hari badannya berkeringat, karena harus mengajar mengaji, dari satu rumah kerumah lainnya. Pernah suatu kali Ibu ditabrak motor ketika baru turun dari angkot, sampai 3 ruas jari kakinya retak.

Pengorbanan orang tua tidak mungkin bisa saya balas dengan semua kebaikan yang bisa saya lakukan untuknya. Sebagai anak seharusnya berjuang keras membahagiakan mereka. Namun ada moment-moment kehidupan yang justru membuat orang tua terluka dan kecewa.

Kuingat berbagai kejadian yang membuat orang tua saya kecewa. Saat orang tua sakit seharusnya ada di sisinya tetapi kita sibuk mencari alasan ampuh untuk tidak menemaninya. Bukan uang dan pelunasan pembayaran rumah sakit yang lebih diperlukan mereka, melainkan kehadiran buah hatinya untuk menghiburnya saat ia terbaring di rumah sakit. Oh, ternyata saya belum menjadi anak yang sholeh. Ternyata saya juga belum menjadi anak yang selalu mampu membahagiakan orang tua.

Tanpa terasa air mata membasahi pipi. Sadar diri bahwa masih banyak yang harus saya benahi dalam hidup, khususnya rasa hormat dan upaya untuk selalu membahagiakan orang tua. Pengalaman tidur bersama anak-anak tadi malam membuat saya bahagia sekaligus bercermin diri. Terima kasih Arvel dan Arvy, kau membuat ayah rindu kepada kakek-nenekmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here